“ … Etnosentrisme cenderung memandang rendah orang-orang yang dianggap asing, etnosentrisme memandang dan mengukur budaya asing dengan budayanya sendiri. “ ( The Random House Dictionary ).

ya, tajam betul petikan kata-kata diatas, tidak dapat dipungkiri kini krisis dalam keseharian bermasyarakat di indonesia semakin menipis. kini kita dihadapkan tentang bergesernya makna komunikasi bermasyarakat dan ber-sosial karena kemajuan tekhnologi yang sulit untuk di hentikan,

jika kita menilik sejarah, tentang keberanian bersikap para pemuda pada 28 oktober tahun 1928 untuk mengucapkan ikrar yang di sebut kini sebagai “sumpah pemuda” dan selalu di rayakan bersama, sebelum itu sikap dari pemuda indonesia masih terpecah-pecah dan sangat menjunjung tinggi sikap Etnosentris dimana mereka selalu membanding-bandingkan budayanya dengan budaya orang lain dan terkesan begitu membanggakan budayanya, lantas apa yang terjadi kini merupakan sikap yang sama???

saya mungkin akan mencoba membuka mata kawan-kawan semua akan kejadian yang terjadi beberapa minggu yang lalu, “hendry mulyadi” nama yang mungkin cepat sekali booming untuk hanya ukuran beberapa detik tampil di layarkaca, beliau begitu berani masuk kedalam pertandingan yang saat itu sedang terjadi, namun kini kita kembali di hadapkan sebuah fenomena dimana supporter team kesayangannya bersikap begitu brutal di daerah orang lain.

berbeda konteks memang, namun ini masalah kita bersama dan harus kita cari solusi terbaiknya,, sepertinya ada yang salah dari mental para pemuda-pemuda kita, mereka dengan sangat frontal dan membabi buta seperti orang yang kehilangan arah dan klimaks dalam bertindak tanpa berfikir jauh,.

Secara kurang formal etnosentrisme adalah kebiasaan setiap kelompok untuk menganggap kebudayaan kelompoknya sebagai kebudayaan yang paling baik.
Etnosentrisme terjadi jika masing-masing budaya bersikukuh dengan identitasnya, menolak bercampur dengan kebudayaan lain. Porter dan Samovar mendefinisikan etnosentrisme seraya menuturkan, “Sumber utama perbedaan budaya dalam sikap adalah etnosentrisme, yaitu kecenderungan memandang orang lain secara tidak sadar dengan menggunakan kelompok kita sendiri dan kebiasaan kita sendiri sebagai kriteria untuk penilaian.

terlepas dari sikap mereka dalam memandang budaya , kecenderungan mereka untuk membela team kesayangan mereka hanya untuk sekedar membela dan mendukung sepertinya begitu berlebihan, Bukan tidak mungkin, bangsa ini akan kembali hancur karena sikap etnosentrisme, dan memandang kelompok kami lebih baik dari mereka, dan kembali terpecah-pecah menjadi wong java,wong sunda dll ,

kalau kita menilik dunia persepak bolaan inggris, yang notabenenya biasa di sebut hooligan yang terkenal dengan aksi brutal mereka di luar negaranya, mereka memandang bahwa pertandingan week end merupakan hiburan di dunia hiruk pikuk pekerjaan mereka, dan lagi mereka tidak sama sekali pernah melakukan kerusuhan antar team di dalam negaranya, bahkan mereka bisa duduk bersampingan, padahal mereka membela team yang berbeda,
begitu kontradiksi dengan kita bukan???

BAGAIMANA DENGAN NEGARA KITA?????

bukan rahasia lagi jika sepak bola indonesia kini di jadikan ajang unjuk kuat (stronger than…) dibandingkan musuh – musuh mereka, mereka seakan tidak lagi mengecap jabatan sebagaiPEMUDA INDONESIA hampir setiap pertandingan terjadi kerusuhan, dimulai dari hal sepele dan bahkan berujung pada kerusuhan di luar stadion?.

miris sekali memang, ketika pahlawan kita dahulu sibuk untuk menyatukan kita para pemuda untuk bersatu padu melawan penjajah dan menyusun kekuatan bersama-sama tanpa mementingkan golongan, namun kini arti sebuah keselarasan dalam bertindak dan bertingkah laku sepertinya sudah hilang akibat pola fikir kita yang begitu picik.

mungkin saya akan mencoba memberikan sedikit konklusi secara obyektif,

“Ketegasan dalam bersikap untuk melawan kerusuhan” kini selalu terngiang di telinga saya bahwa PSSI selalu bersikap lamban dan terkesan tidak tegas untuk menentukan langkat konkrit kedepan apakah efek jika sebuah team membawa supporter yang bersikap rusuh dan tidak terkontrol. semoga pergantian dan perombakan bisa terjadi disana, karena klaim bahwa di dalam tubuh PSSI terdapat sogokan untuk memenangkan pertandingan kini sudah begitu berhembus hebat” Penjadwalan yang profesional,” , bukan rahasia lagi, jika jadwal pertandingan di indonesia merupakan jadwal terburuk.“sikap etnosentrisme yang kembali kepada MORAL dan NORMA masyarakat yang lebih di tekankan”seharusnya norma serta nilai di dalam masyarakat bisa mereka fahami dan bisa mereka implementasikan, sehingga akan terciptanya kehidupan bermasyarakat yang harmonis” Rasa Memiliki serta sikap nasionalisme , dan jangan pernah bersikap acuh tak acuh” , karena kini banyak sekali orang berfikir bahwa setiap masalah sudah ada yang seharusnya bertanggung jawab,
padahal jika kita mampu menelusuri siapakah mereka,
Bukankah Mereka adalah satu kesatuan kita,????

dan tampaknya bangsa indonesia seharusnya mampu introspeksi diri, selama sikap ini masih tertata secara rapi dalam ke-egoisan kelompok, maka sudah dipastikan prestasi seperti bayang-bayang semu yang selalu di nanti-nantikan,

Daya Upaya Untuk Mengurangi Prasangka dan Diskriminasi

 

Perbaikan kondisi social ekonomi, pemerataan pembangunan, dan usaha

peningkatan pendapatan bagi WNI yang masih di bawah garis kemiskinan.

Perluasan kesempatan belajar.

Sikap terbuka dan lapang harus selalu kita sadari.

 

 

Masalah diskriminasi antara umat Muslim dan Nasrani yang terjadi di Poso.

Kasus Tibo adalah sebuah kasus mengenai penyelesaian Kerusuhan Poso. Tibo sendiri merupakan salah satu terdakwa dari tiga terdakwa dalam kasus ini. Tiga orang terdakwa dalam kasus ini adalah Fabianus Tibo, Dominggus da Silva, dan Marinus Riwu. Mereka ditangkap pada Juli dan Agustus 2000. Dan dijatuhi vonis mati pada April 2001 di Pengadilan Negeri Palu, dan ditegaskan kembali dengan Pengadilan Tinggi Sulawesi Tenggara pada 17 Mei 2001. Pengadilan memutuskan bahwa mereka bersalah atas tuduhan pembunuhan, penganiayaan, dan perusakan di tiga desa di Poso, yakni Desa Sintuwu Lemba, Kayamaya, dan Maengko Baru.

 

Solusi :

Pemerintah harus menangkap oknum-oknum dari pihak muslim dan nasrani sebagai dalang provokator masalah tersebut. Melakukan perundingan antara tokoh utama Muslim dan Kristen.

 

Referensi :

http://inspirasibeta.blogspot.com/2010/01/sikap-etnosentrisme-kembali-terpatri.html