hacker
Angka serangan terhadap website-website nonkomersil saat ini meningkat. Dengan Hacktivism (aktivitas penyerangan oleh hacker yang dimotivasi oleh kepentingan tertentu, misalnya kampanye) ini, para aktivis Internet berusaha membuat lawan-lawan politiknya bertekuk lutut. Selamat datang di garis depan perang informasi di abad ke-21 demikian komentar dari Wall Street Journal terhadap serangan server Internet RadioFreeEurope.


Delapan website stasiun siaran tersebut tidak dapat diakses selama berjam-jam. Awalnya, memang terlihat seperti gangguan server biasa. Namun, setelah diperiksa, ternyata ini merupakan sebuah serangan terencana. Sekitar 50.000 server query per detik memaksa Inter-net gateway tersebut menjadi lumpuh sementara.Pihak yang bertanggung jawab terhadap serangan cyber ini kemungkinan adalah presiden Belarusia, Alexander Lukaschenko. Dengan memanfaatkan Hacktivism, yaitu hacker yang bermotivasi politik, rezim ini kemungkinan ingin memblokir siaran-siaran seputar berita dari pihak oposisi. Ini mengingatkan kita pada akhir dari negara Uni Soviet. Lukaschenko merupakan orang yang sangat memuja USSR

DDoS, Serangan yang hampir belum ada obatnya Teknik di balik serangan ini sebenarnya hampir sama. Pada kasus serangan selama tiga jam yang pernah diderita website CNN, para hacker China mendis-tribusikan sebuah tools khusus ke semua orang yang menyerang. Selama periode waktu yang telah ditentukan, para peserta secara bersamaan menjalankan serangan Distributed Denial of Service (disingkat: DDoS), seperti dalam sebuah botnet. Tools ini mengirim sejumlah query yang yang terlihat “legal” untuk memanggil website. Namun, prosesnya sangat cepat dan dalam jumlah yang sangat besar. Tujuannya agar server CNN tidak sanggup memproses permintaan tersebut dan akhirnya down. Belum ada cara yang tepat untuk mencegah serangan DDoS ini. Server-server di Amerika mengatasinya hanya dengan cara membatasi jumlah query yang berasal dari wilayah Asia. Namun, masalah ini tidak terselesaikan secara tuntas. Pengguna dari wilayah lain tetap dapat mengakses website ini dengan normal. Namun, pengunjung asal China dan India terblokir selama berjam-jam.Para aktivis hacking yang tidak merasa cukup hanya dengan memberikan motivasi kepada orang lain untuk melakukan DDoS, tidak mau menyerah dan tetap menggunakan bentuk se-rangan ini. Mereka menyewa botnet dari mafia Internet seharga 100 dollar per hari. Botnet ini juga digunakan un-tuk tujuan-tujuan politis. Namun, biasanya serangan DDoS dari botnet dilakukan untuk tujuan pemerasan. Begitu diserang, korban akan langsung menyerah dan memberikan uang yang diminta. Bila korban tidak mau membayar, server korban akan dibuat tidak berdaya selama berhari-hari. Toko online biasanya menjadi target dari serangan ini. Apabila pelanggan tidak dapat mengakses website, pengusaha merugi. Serangan virtual terhadap stasiun radio dan TV sebenarnya sudah ada sebelum era Internet. Pernah satu waktu, seseorang dari Soviet mengganggu siaran dari RadioFreeEurope dengan menggunakan perangkat satelit.
Sumber:www.rferl.org